Pengulangan (Al-Tikrar) dalam al-Quran

Oleh: Muhammad Bachtiar Marzoeq[1]

A. Mukadimah

Ayat-ayat al-Qur`an bagaikan  intan, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lainnya. Dan tidak mustahil, bila anda mempersilahkan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang anda lihat.[2] Inilah  sebagian untaian kata yang diungkapkan oleh Dr. Abdullah Durraz dalam bukunya al-Naba` al-Adzim.Kata-kata ini menggambarkankan kepada kita tentang i`jaz al-Qur`an yang tidak akan pernah habis ditelan zaman. Karena itu, aspek i`jaz al-Qur`an akan terus berevolusi pada tiap generasi, dengan dalih bahwa meskipun al-Qur`an telah melewati berabad-abad dari masa penurunannya, al-Qur`an masih tetap hangat dikaji, diteliti dan diperbincangkan. Usaha-usaha untuk mengetahui rahasia-rahasia yang terkandung didalamnya masih terus dilakukan. Tidak hanya itu musuh-musuh Islam pun sangat agresif mengkaji kitab suci ini walaupun tujuannya tidak lain untuk mendapatkan kelemahan-kelemahan didalamnya dan merekapun tidak mendapatkanya.[3]

Adapun segi i`jaz al-Qur`an yang begitu berpengaruh pada awal turunya al-Qur`an adalah (al-I`jaz al-Lughawi) yaitu i`jaz al-Qur`an dari segi bahasa. Sebagaimana telah ma`lum bahwa nabi Muhammad Saw diutus di tengah-tengah kaum yang sangat fasih dalam berbahasa arab baik dari aspek balagah, Syi`ir, khitabah. Maka sebagai Rasul yang membawa risalah kepada ahlu al-fasahah nabi Muhammad Saw dituntut untuk bisa menunjukkan kepada kaumnya bukti kebenaran risalahnya, maka turunlah al-Qur`an. Dan al-Qur`an pun datang dengan mu`jizat yang tak tertandingi, mereka pun mengakui hal tersebut dan tidak sedikit dari mereka yang beriman hanya dengan mendengarkannya dan merasakan keindahan susunan al-Qur`an. Lalu mereka yakin bahwa al-Qur`an ini bukan buatan nabi Muhammad Saw, dan juga bukan syi`ir. Namun kesombonganlah yang membuat mereka terus terseret dalam kesesatan.

Dari salah satu al-i`jaz yang terdapat dalam al-Qur`an adalah pengulangan yang terjadi pada ayat-ayatnya atau yang lebih dikenal dalam cabang ilmu al-Qur`an al-tikrar. Hikmah dari pengulagan ini antara lain adalah untuk penegasan dalam perkataan, keindahan dalam berbahasa dan kecakapan dalam rethorika[4]. al-tikrar dalam al-Qur`an juga masuk dalam pembahasan mutasyabih al-Quran, karena ilmu Mutasyabih al-Qur`an terbagi menjadi dua: (a) Mutasyabih yang khusus pada tata letak dan susunan kalimat, contohnya: Taqdim wa Ta`khir, dzikr wa al-hazdf dan masih banyak lagi yang semisal dengannya. (b) Dan yang kedua adalah Mutasyabih dengan jenis pengulangan kata yang sering kita jumpai dalam al-Qur`an.[5]Untuk lebih jauh mengetahui tentang rahasia-rahasia yang tersembunyi dari pengulangan-pengulangan yang terdapat dalam al-Qur`an, pada makalah yang sederhana ini, penulis mencoba mempetakan sebuah studi pengantar atau aldirasah al-mumahhadah pada pembahasan ini. Tentunya kita semua mempunyai tanggung jawab intelektual untuk mengkaji lebih dalam lagi salah satu uslub al-Qur`an ini.

B. Defenisi

Sejatinya, untuk mendefinisakan istilah al-tikrar ini, tidak cukup dengan mengetengahkan defenisi yang secara bahasa maupun istilah. Ulama mempunyai banyak istilah yang semantik dengan al-tikrar. Diantara istilah yang semantik dengan al-tikrar adalah: al-Ithnab, al-Taukid, al-tardid dan al-Tasdir. Namun dengan banyaknya istilah yang semantik dengan al-tikrar, pada dasarnya semua bermuara pada satu induk makna yaitu al-tikrar itu sendiri[6]. Maka dari itu untuk mengefesienkan kajian kita kali ini, penulis rasa defenisi yang akan saya paparkan dibawah ini cukup representatif. Selanjutnya kita akan mengetahui defenisi dari al-tikrarbaik dari segi bahasa dan istilah.

 

Dari aspek etimologi al-tikrar merupakan bentuk infinitif (masdar) dari asal kata ( ( كررKarrara yang berarti mengulangi.[7] Adapun menurut istilah, Ibnu Atsir mendefinisakan al-tikrar adalah: Sebuah lafadz yang menunjukkan kepada suatu makna dengan berulang-ulang.[8] Defenisi lain yaitu dari Ibnu Naqib, ia mengartikan al-tikrar dengan: Lafadz yang keluar dari seorang pembicara lalu mengulanginya dengan lafadz yang sama, baik lafadz yang diulanginya tersebut semantik dengan lafadz yang ia keluarkan ataupun tidak, atau ungkapan tersebut hanya dengan maknanya bukan dengan lafadz yang sama.[9]

C. Sepintas Perkembangan Ilmu Tikrar dalam al-Qur`an.

Kita akan membahas perkembangan ilmu al-tikrar dalam al-Qur`an ini secara umum, maksudnya pengkajian tidak dikhususkan pada perkembangan ilmu al-tikrar itu sendiri, melainkan pengkajian kita awali dari munculnya al-tikrar atau pengulangan-pengulangan dalam perkataan yang begitu familiar ditengahtengah bangsa Arab, juga kita akan mengulas sedikit perkembangan ilmu-ilmu yang mendukung perkembangan ilmu al-tikrar. Diantara ilmu yang mendukunya adalah: Ilmu I`jaz al-Qur`an, pembahasan pada cabang ilmu ini sangat global karena masuk di dalamnya I`jaz al-Bayani, I`jaz al-Tasy`ri`i, I`jaz al-Ilmi dan sebagainya. Kita juga akan membahas perkembangan ilmu yang lebih khsusus membahas al-tikrar ini yaitu Mutasyabih al-Qur`an seperti yang kita telah singgung sedikit pada mukaddimah bahwa al-tikrartermasuk macam dari Mutasyabih al-Qur`an. Adapun fase pengkajian yang akan kita petakan sebagaia berikut:

1. Al-Tikrar pada bahasa Arab

Perkembangan bahasa arab telah dimulai sekitar satu abad setengah sebelum datangnya Islam ke jazirah Arab. Perkembangan bahasa arab yang pesat ini dibarengi dengan kaidah bahasa yang mapan. Dengan turunnya al-Qur`an lalu di dukung oleh Sunnah, keistimewaan yang dimilki oleh bahasa Arab pun semakin stabil dan kontinyus hingga hari ini dan terhindar dari perubahan. Ada dua faktor yang menyebabkan munculnya pengulangan (al-tikrar) dalam bahasa arab diantaranya: (1) Perkembangannya secara lisan. (2) Kebutuhan manusia kepada pengulangan kata itu sendiri. Ketika turun al-Qur`an dengan lisan kaumnya lalu juga didukung oleh Hadits Rasul maka makin mapanlah nasy`ah dari al-tikrar ini. Dari itu sering kita dapati hadits-hadits nabi yang redaksinya berulangan hingga tiga kali. Diantara hadits yang yang memakai redaksi berulang-ulang adalah, hadits dari Anas ia berkata: Sesungguhnya nabi ketika mengucapkan salam, mengucapkannya tiga kali, dan apabila berkata ia pun megulangi tiga kali (Fath al-bari bab 30 dari kitab Ilmu) Itulah sekilas tentang al-tikrardalam bahasa Arab, sebagaimana bangsa arab sangat gandrung sekali dalam mengulang-ngulang perkataan mereka[10]. Pada bagian mukaddimah kita telah singgung bahwa al-tikrardalam al-Qur`an merupakan bentuk dari i`jaz al-Qur`an dan termasuk dalam pembahasan Mutasyabih al-Qur`an[11]. Dari itu, kita akan membahas perkembangan ilmual-tikrarini secara umum, yaitu gambaran mujahadah ulama dalam menyingkap tabir ijaz al-Qur`an. Kita bisa bagi dalam beberapa fase diantaranya:

2. Perkembangan Ilmu I`jaz al-Qur`an

a.      Ulama yang terdahulu (al-Aqdamun).

Mereka sangat intens dalam membahas i`jaz dalam al-Qur`an. Usaha mereka ditandai dengan munculnya karya tulis, diantaranya: Abu Sulaiman al-Khitabi, Ali bin Isa al-Rumani, Fakhruddin al-Razi, Ibnu Saraqah, Abu Bakr al-Baqilani, Kamal bin Hammaam, ibnu al-Zamkani, al-Suyuthi, abdul Qahir al-Jurjani dan masih banyak lagi ulama-ulama yang memiliki prospek yang sama dalam ijaz al-Qur`an. Dan ada juga dari mereka yang membahasnya dengan porsi dan metodologi yang berbeda yaitu melalui buku-buku tafsir dan juga buku yang tidak hanya membahas tentang i`jaz al-Qur`an seperti Ibnu Athiyah, al-Marakisyi, al-Ashbahani, al-Sakaki, al-Suhaili, Qadhi `Iyyadh, al-Zarkasyi dan juga ulama-ulama yang lainnya[12].

b.      Ulama Masa Kini (`Asru al-Hadits)

Dari ulama masa kini diantaranya: Prof. Mustafa Sadiq al-Rafi`i, beliau menulis sebuah kitab tentang i`jaz al-Qur`an. Ada juga yang membahas ilmu ini dalam kitab-kitab mereka yang tidak khusus pada ijaz al-Qur`an seperti Syeikh Muhammad Zahid al-Kautsari wakil dari Masyaikh al- Utsmaniyah, Prof Abbas Mahmud Aqqad, Prof Muhammad al-Ghamrawi.[13]

3. Perkembangan ilmu Mutasyabih al-Qur`an,

Ulama berselisih pendapat untuk menentukan siapakah yang paling pertama menulis ilmu Mutasyabih al-Qur`an. Ada yang mengatakan bahwa Musa al-Dharra lah yang paling pertama menulsinya ada juga yang berpendapat bahwa ulama itu adalah Muqatil bin Sulaiman. Ala kulli halbaik itu Musa al-Dharra atau Muqatil bin Sulaiman yang jelas ilmu ini bermula pada abad dua Hijriyah. Kemudian ilmu ini terus berkembang, seperti yang disebutkan oleh Ibnu Nadim dalam bukunya dengan judul ”al-Kutub al-Mu`allafah Fi Mutasyabih al-Qur`an”diantara kitab-kitab yang ia sebutkan adalah: kitab Mahmud bin Hasan, kitab Khalaf bin Hasan, kitab al-Qathi`i, kitab Nafi`i, kitab Hamzah, kitab Ali bin al-Qasim, Ja`far ibn Harb al-Mu`tazili, kitab Muqatil bin Sulaiman, kitab Abi Ali al-Jubai`, kitab Abi al-Hudzail al-`Allaf. Selain Ibnu Nadim, al-Zarkasyi juga menyebutkan dalam bukunya al-Burhan pada pembahasan “Ilmu al-Mutasyabih al-Lafdzi” ia menyebutkan ulama-ulama yang juga menulis dalam ilmu Mutasyabih diantaranya: al-Kirmani dalam kitabnya: al-Burhan, juag al-Razi dalam bukunya Durratu al-Ta`wil dan juga Abu Hafs ibn Zubaer.[14]

D. Macam-macamal-Tikrar dalam al-Qur`an .

Pada pembahasan ini, kita akan mengkaji macam-macam al-Tikrar dalam al-Qur`an dengan tidak menyebutkan semua al-Tikrar yang ada dalam al-Qur`an, karena al-Tikrar dalam al-Qur`an sangat banyak jumlahnya dan tentu tidak kita bahas pada makalah yang sederhana ini. Namun kita akan menyebutkan macam al-Tikrardengan sedikit contoh yang representatif. Diantara macam al-Tikrardalam al-Qur`an adalah:

1.      Pengulangan yang terjadi pada lafadz

Maksud pengulangan yang dimaksud pada jenis ini adalah pengulangan yang ada pada satu tema dan siyaq-korelitas. Seperti pengulangan yang ada pada beberapa ayat yang berdekatan atau pada pembahasan yang sama di surat yang berbeda atau surat yang sama. Contohnya pengulangan yang terjadi pada lafdzu al-jalalah. Pada lafdzu al-Jalalahالله)) pengulangan terjadi beragam, diantaranya terulang lebih dari dua kali dalam satu ayat atau bahkan tiga kali seperti yang terjadi pada surat al-Baqarah ayat 247 yang berbunyi: وقال لهم نبيهم ان الله بعث لكم طالوط ملكا قلو انى يكون له الملك عليتا ونحن احق بالملك منه ولم يؤت سعة من المال….الخ)).Pada ayat lain lafdz al-Jalalah diulang hingga lima kali pada satu ayat yaitu masih pada surat al-Baqarah ayat 165 yang berbunyi: ومن الناس من يتخذ من دون الله اندادا يحبونهم كحب الله والذين أمنو اشد حبا لله……….الخ))[15]

2.      Pengulangan pada mode gramatikal bahasa arab (al-Numt al-nahwi)

Pengulangan pada jenis ini lebih kepada keindahan alunan musik yang ditimbulkan bukan pada berapa kali diulangnya suatu kalimat. Keindahan ini membuat al-Qur`an begitu indah sehingga jiwa pun rindu untuk selalu mentadaburinya dan juga mudah untuk dihafal. Jenis pengulangan ini sering kita dapatkan pada surat-surat yang bercorak al-Makkiy yang mempunyai potongan-potongan surat relatif pendek. Contohnya pada surat al-Naziat ayat 1-5 yang berbunyi:          (والنازعات غرقا. والناشطات نشطا. والسابحات سبحا. فالسابقات سبقا. فالمدبرات امرا)( النازعات: 1-5)

Kita dapat amati pengulangan yang terjadi pada wazanالفاعلات فعلا pada empat ayat yang pertama dan pada ayat kelima memakai Ism Fail Rubai Mudhaaf “ دبر” dan memakai Jam`a Muannats Salimtikrar ini pun datang dengan alunan musik yang indah bagi pendengar.[16]

3.      Pengulangan pada kalimat

Pengulangan inilah yang mendapat perhatian besar dari kalangan ulama Tafsir dan Balaghah. Seperti tafsir al-Kasyaf yang disusun oleh al-Zamakhsyari dan juga studi dari ulama al-Mutaqaddimin yaitu buku yang berjudul “Durratu al-Tanzil wa Gurratu al-Ta`wil”karya Khatib al-Iskafi dan juga al-Kirmani dengan bukunya al-Burhan. Secara umum pengulangan pada kalimat dalam al-Qur`an terbagi menjadi dua yaitu: (a) Pengulangan pada kalimat yang berdekatan, banyak kita dapatkan, tapi yang paling jelas terlihat pengulangan ini pada surat al-Rahman, al-Mursalat dan al-Kafirun. (b) Pengulangan pada kalimat yang berjauhan. Pada pengulangan ini kembali menunjukkan kepad kita I`jaz Balaghi yang dimilki oleh al-Qur`an. Ayat-ayat berulang namun disertai perbedaan lafadz dari segi taqdim wa ta`khir atau mengganti huruf dengan makna yang berbeda. Ini semua sekali menunjukkan segi balagatul-Qur`an. Namun untuk mengetahui ini tentu dengan mencermati siyaq ayat tersebut antar ayat sebelumnya dan sesudahnya. Seperti pengulangan yang terjadi pada surat al-Baqarah ayat 49, al-A`raf ayat 141 dan surat Ibrahim ayat 6[17]. Untuk mengetahui pengulangan pada ayat-ayat diperlukan penjelasan yang panjang penulis cukupkan dengan memberikansurat dan ayatnya guna efesiensi.

4.      Al-Tikrar dalam kisah al-Qur`an

Telah kita ketahui bersama al-Qur`an diturunkan dalam rentan waktu tiga belas tahun secara berangsur-angsur guna membimbing manusia untuk mengarungi kehidupan ini. Dan salah satu wasilah yang digunakan al-Qur`an untuk adalah banyaknya kisah-kisah yang terdapat dalam al-Qur`an. Wasilah ini sangat tepat karena fitrah manusia memang gemar akan kisah-kisah. Mereka senang mendengarkan ataupun membaca kisah-kisah kaum terdahulu kemudian al-Qur`an datang mengobati fitrah manusia tersebut dengan mengetengahkan kisah kaum-kaum terdahulu dengan beragam kondisi yang mereka alami. Sebagian mereka tersiksa akibat maksiat yang mereka lakukan dan tidak patuh kepada perintah Tuhan dan sebagian mereka lagi dalam keadaan suka penuh kebahagian disebabkan perbuatan  mereka yang terpuji[18]. Banyak sekali kita dapatkan pengulangan-pengulangan pada kisah al-Qur`an diantaranya pada kisah Musa yang diulang di banyak surat yaitu: Surat Taha, surat al-Syu`ara, surat al-A`raf, surat al-Isra, surat Yunus, surat al-nazi`at dan surat al-Dzariyat.[19]

E. Rahasia al-tikrardalam al-Qur`an[20]

Diantara hikmah dari tikrar adalah sebagai berikut:

a.      Menganjurkan manusia agar mentadabburi al-Qur`an lalu kemudian mengambil ibrah dari pengulangan ayat tersebut. Seperti pada ayat-ayat yang menjelaskan tentang kekuasaan Allah dari penciptaan langit, bumi angkasa raya dan sebagainya. Seperti pada surat al-Syua`ra ayat 8 dan 9 yang bunyi ayatnya adalah: ان فى ذلك لأيةوما كان اكثرهم مؤمنين. وان ربك لهو العزيز الحيم)) ayat ini diulangi sebanyak delapan kali

b.      Anjuran agar istiqomah. Seperti pengulangan kalimat Tauhid pada firmannya yang berbunyi: (شهد الله انه لااله الا هو والملائكة قائما بالقسط لااله الا هو العزيز الحكيم)

c.       Pengkukuhan eksistensi tuhanyang memilki alam semesta. Seperti pada surat al-Nisa ayat 131 dan 132

d.      Pengkhususan. Seperti pengulangan pada lafazd الناس)) sebanyak dua kali pada surat Ghafir ayat 61. Pemgkususan ini diperuntukan kepada manusia dari makhluk yang lainnya dengan kekufuran mereka pada nikmat-nikmat Allah.

e.       Celaan. Seperti pengulangan pada ayat((فبأي الاء ربكما تكذبان sebanyak 30 kali

f.        Ancaman. Seperti pengulangan ayat (ويل يومئذ للمكذبين)  pada surat al-Mursalat

Sedikitnya ada 23 poin yang disebutkan oleh Mahmud al-Sayyid Syaikhun dalam bukunya “Asraru al -Tikrar fi Lugatil Qur`an, diantara rahasia-rahasia yang ia sebutkan selain point-point yang telah kita kemukakan di atas adalah: bentuk dari kekaguman, membuat ayat yang diulangi itu semakin kukuh di jiwa, pengingatan kembali sesuatu yang diulangi tersebut setelah panjangnya pembicaraan pada suatu masalah, pencelaan, agar makna menjadi lebih indah, bentuk pengagungan dan sebagainya.[21]

F. Ikhtitam

Sekian kajian pendahuluan dalam cabang ilmu al-Tikrardalam al-Qur`an. Semoga sederhananya makalah ini dan singkatnya kajian kita pada malam ini bisa menjadi sugestor dan motivator agar kembali mendalami takhassus ini. Peluang referensi yang berlimpa menantang kita untuk terus menggali. Tentu kita tidak mau menjadi seperti seekor ayam yang mati kelaparan di lumbung padi. Wallahu `Ala Ma yasyau Qadir Falillahi al-Amru Kulluhu.


[1] Presentator adalah  Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al-Qur`an. Universitas Al-Azhar,

Zagazig, Mesir

[2]Dr. M. Quraisy Shihab, Membumikan al-Qur`an, hlm 16. Cet. Mizan Bandung

[3]Mahmud Bin Mahmud Al-Abdullah, al-I`jaz al-bayani  Wa al-Tasyri`I wa al-Sabaq al-ilmi Lil-Qur`an, hlm 9. Cet al-Majd

li al-Tsaqafah  wa al-Ulum ,Tanta. 2008

[4]Dr. Sayyid Khadar, al-Tikrar al Uslubi fi al-Lugah al-Arabiyah, hlm 6, cet Darel-Wafa, tahun 2003

[5]Dr. Ali Syarif, Faidhurrahman Fi taujihi Mutasyabih Nudzumi al-Qur`an, hlm 102, cet M Galal. Tanpa tahun

[6] Dr. Sayyid Khadar, al-Tikrar al Uslubi fi al-Lugah al-Arabiyah, hlm 7, cet Darel-Wafa, tahun 2003

[6]Dr. Mahmud al-Sayyid Syaikhun, hlm 9, cet Darel-Hidayah. Tanpa tahun

[7]Dr. Sayyid Khadar, al-Tikrar al Uslubi fi al-Lugah al-Arabiyah, hlm 6, cet Darel-Wafa, tahun 2003

[8] Ibid: hlm 8

[10]Dr. Mahmud al-Sayyid Syaikhun, Asraru al -Tikrar fi Lugatil Qur`anhlm 22-29, cet Darel-Hidayah. Tanpa tahun.

[11]al-tikrarmerupakan salah satu jenis dari mutasyabih al-Qur`an, ini terlihat jelas pada karya Syeikh Muahmud Bin

Hamzah al-Kirmani yang  ia beri nama Asraru al-Tikrar fi al-Qur`an al-Musaamma al-Burhan Fi taujihi Mutasyabih al-

Qur`an Lima Fihi min al-hujjah wa al-Bayan.

[12]Syeikh Muahmud Bin Hamzah al-Kirmani .Asraru al-Tikrar fi al-Qur`an al-Musaamma al-Burhan Fi taujihi Mutasyabih

al-Qur`an Lima Fihi min al-hujjah wa al-Bayan, hlm 40-41, cet Darel Fadhilah, tanpa tahun.

[13] Ibid: hlm 40-41

[14]Dr. Ali Syarif, Faidhurrahman Fi taujihi Mutasyabih Nudzumi al-Qur`an, hlm 60-64, cet M Galal. Tanpa tahun

[15]Dr. Sayyid Khadar, al-Tikrar al Uslubi fi al-Lugah al-Arabiyah, hlm 101, cet Darel-Wafa, tahun 2003

[16] Ibid: hlm 114

[17] Ibid: hlm 118

[18]Dr. Sayyid Khadar, al-Tikrar al Uslubi fi al-Lugah al-Arabiyah, hlm 147, cet Darel-Wafa, tahun 2003

[19] Idad: Qisam Tafsir dan Ulumul Qur`an fakultas Ushuluddin Al-Azhar, hlm 48-70 cet Darel Sawwaf tahun 2008.

[20]Dr. Mahmud al-Sayyid Syaikhun, Asraru al -Tikrar fi Lugatil Qur`anhlm 52-64, cet Darel-Hidayah. Tanpa tahun.

[21] Untuk lebih luas silahkan rujuk ke buku Asraru al -Tikrar fi Lugatil Qur`an karya Asraru al -Tikrar fi Lugatil Qur`an. Penulis sengaja tidak menuliskan semua poin-poin yang ia sebutkan guna efisiensi.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment